Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Apr 24, 2016 in Artikel | 0 comments

Antara Kebaya dan Surat-Surat Kartini

Antara Kebaya dan Surat-Surat Kartini

13043539_10205726358949925_7003928206531274472_nPKSKarawang Sebulan yang lalu, seorang sahabat  datang dengan mata berkaca kaca. Ia mengatakan kalau akan berangkat kembali ke Hongkong untuk menjadi TKW . Ini adalah yang kelima kali. Setelah sebelumnya  ke negeri ke Arab Saudi, Malaysia dan Hongkong. Walau sudah menginjak usia lebih dari empat puluh tahun ia tidak punya pilihan lain. Sekalipun harus berpisah dengan bayinya yang belum satu tahun. Kemana suaminya? Rupanya mereka bercerai. Penyebabnya, Sang Suami tidak bekerja dan tidak bisa menjadi penopang bagi dirinya dan dua putranya.  Kehidupan terus berjalan. Ia kini harus memikirkan biaya untuk anak anaknya. Juga  untuk orang tuanya yang mulai renta . Sedang tabungannya `makin menipis. Akhirnya ia memutuskan untuk mengorbankan kesenangannya berdekatan dengan buah hatinya.  Jadi tulang punggung keluarga.

Selain sahabat saya di atas, ada banyak sosok perempuan yang kuat. Pantang menyerah. Penakluk kehidupan. Walau harus bertarung di negeri orang yang jauh dan terasing. Sendiri. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Setidaknya bagi keluarganya.  Sebagaimana di negeri sendiri yang tak kalah banyak oleh sosok perempuan penakluk kehidupan. Semisal Teh Irma warga Karawang yang harus kehilangan nyawa oleh gigitan ular kobra di atas panggung dangdut. Demi rupiah penopang dapur.

Mereka adalah Kartini yang tak dikenal. Ya, Kartini yang kita peringati harinya setiap tanggal 21 April. Semangat untuk merubah keadaan adalah alasan yang membuat penulis mengaitkan potret perempuan penakluk kehidupan di atas dengan hari Kartini. Hari di mana biasanya kita memperingati dengan kebaya, dan sanggul. Sebagian kita menambah dengan kegiatan memasak, fashion show atau sekedar berseragam batik bagi pekerja kantoran. Padahal, sosok Kartini identik dengan semangat pembebasan perempuan. Boleh juga dikatakan sebagai pemberontak ala kaum hawa. Terbebas dari pengekangan, ketertinggalan, kebodohan. Diantaranya ada juga yang menyeret ke sisi yang lebih ideologis dan tegas : tuntutan persamaan hak dengan kaum adam.

Apabila dipikirkan kadang menjadi paradoks, kebaya dan kain  yang melilit kaki sehingga menyulitkan bergerak sebenarnya bisa dikatakan bertentangan dengan semangat kebebasan itu sendiri. Entah mulanya kapan simbolisasi kebaya ini dimulai untuk peringatan hari Kartini. Sisi positifnya, barangkali ingin mengangkat bahwa perempuan itu selayaknya adalah sosok yang anggun.

Di sini, dengan maksud menggali semangat yang utuh dari sosok perempuan anggun berkebaya bernama Kartini ini, serta agar kita bisa  mengambil pesan sejarah yang bisa kita peroleh, maka  kami coba menelusuri beberapa kutipan dari surat-surat Kartini yang sarat pesan itu.

Jika kita pelajari surat surat Kartini, pada awalnya berisi tentang ketidakpuasannya terhadap kondisi kaum perempuan dimasanya. Setamat Sekolah Rakyat (SR) mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan lagi. Adat dan budaya memposisikan perempuan sebagai manusia kelas kedua yang tidak bisa ambil peran untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.  Kegalauan pikirannya diungkapkannya pada sahabat sahabatnya di Belanda lewat surat yang Kartini kirimkan . Diantara isi surat Kartini berikut layak kita renungkan pesannya:

“ Peduli apa aku dengan segala tata cara itu….. segala peraturan semua  itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan rumitnya etiket didunia keningratan Jawa itu. Tapi sekarang mulai dengan aku antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas batas mana cara liberal itu boleh dijalankan” (Surat Kartini pd Stella Zeehandelaar, 18 Agts 1899)

“Bagi saya hanya ada 2 macam keningratan , keningratan fikiran (fikrah) dan keningratan budi (akhlak). Tak ada manusia yang lebiih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh orang yang bergelar Graaf dan Baron ? Tidaklah dapat dimengerti oleh pikirannku yang picik ini”. (Surat Kartini kepada Stella , 18 Agustus 1899).

Dari isi surat kartini diatas bisa kita pahami semaju apa cara berpikir Kartini, ia melihat manusia dihargai karena cara berfikirnya (orang yang berilmu) dan orang yang berakhlak/budi pekerti yang baik  dan orang yang beramal sholeh atau orang yang bisa memberi manfaat kebaikan bagi orang lain, daripada status orang karena keturunan/keningratannya.

Selama ini sebagian orang juga mengidentikkan kartini sebagai sosok feminis yang menuntut kesamaan perempuan dan laki laki dalam segala hal. Ini sering digaungkan dan menjadi tuntutan banyak wanita hingga ada yang melampaui batas menjadi feminis radikal , menggugat fitrahnya sendiri sebagai seorang perempuan. Mari kita renungkan beberapa isi surat ini:

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya , tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya. ( Surat Kartini kepada Ny. Abendanon , Agustus 1900 ).

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali kali karena kami menginginkan anak anak perempuan itu menjadi saingan laki laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnyayang besar sekali bagi kaum wanita , agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya , kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama tama. ( Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 ).

Membaca surat-surat di atas hati saya bergetar. Ia benar-benar sosok perempuan yang sangat memahami tugas utama wanita sebagai pendidik manusia yang pertama-tama (Al ummu madrasatul ula). Kartini memperjuangkan perempuan harus pintar, harus maju , harus punya wawasan yang luas, punya ketrampilan dan berbudi luhur. Karena perempuan menentukan baik tidaknya generasi yang akan datang.

Kartini tidak hanya mengungkapkan keprihatinannya,  harapannya, juga idealismenya hanya lewat tulisan dalam surat suratnya. Tapi Ia melakukan aksi nyata melakukan perubahan walaupun dalam skala kecil dan terbatas. Kartini mendirikan sekolah perempuan bumi putera. Ia mengajarkan anak anak perempuan pada  saat itu membaca, menulis, menggambar, memasak, merenda, menjahit dan kerajinan tangan lainnya.

Setelah menikahpun dengan dukungan suaminya Kartini terus berbuat untuk kaumnya dan bangsanya. Kartini juga mengembangkan ukiran Jepara yang sangat terkenal hingga sekarang. Disebutkan juga bahwa suaminya mendukung agar kartini dapat menulis sebuah buku. Namun beliau lebih dulu wafat.

Sekarang ketika kita memperingati hari Kartini akankah sudah kita pahami dan kita tiru apa yang sudah beliau lakukan? sudahkah anak anak kita mengerti tentang nilai yang Kartini perjuangkan? Pernahkah surat surat kartini kita baca dan kita ceritakan pada anak anak kita? Ataukah kembali kita terjebak pada seremonial peringatan belaka?

Jangan sampai generasi kita tumbuh hanya mengenal nama pahlawan bangsanya tanpa mampu mencontoh dan meneruskan apa yang mereka perjuangkan. Jangan sampai generasi kita tumbuh dengan budaya hedonisme , permisif dan makin tidak peka terhadap kondisi masyarakat disekitarnya.

Lihatlah banyak hal yang bisa kita teladani dari sosok Kartini. Semangat belajarnya yang tak pernah padam, semangat untuk mengajar dan memajukan orang lain, kepekaannya untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik terutama untuk kaumnya, serta semangatnya dalam turut andil menggerakkan ekonomi masyarakat (dengan menghidupkan seni ukir jepara).

Hari ini di Karawang yang kita cintai ini, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengasah empati dan kepedulian kepada saudara kita yang nasibnya kurang beruntung. Banyak diantara mereka yang menjadi korban KDRT, traficking, anak anak yang broken dan keluarga keluarga yang kehilangan misinya.Salah satunya, dengan memberikan edukasi agar wawasan kaum ibu lebih tercerahkan , untuk kembali mengokohkan Ketahanan Keluarga kita . Sungguh begitu banyak persoalan di negeri ini berawal dari masalah dalam keluarga yang tidak terselesaikan. Jika Keluarga keluarga itu baik maka Ia telah menyumbangkan solusi bagi persoalan negeri ini.

 

Penulis : Nurul Hidayati, SpdI  (Ketua Rumah Keluarga Indonesia / RKI Karawang)

Sumber: Wikipedia (surat surat Kartini) diunduh tgl 5 April 2016

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>