Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Apr 22, 2017 in Artikel | 0 comments

DARI ERA KARTINI  UNTUK MASA KINI

DARI ERA KARTINI UNTUK MASA KINI

18033859_10208231842185440_5799990853838396795_n

PKSKarawang | KARAWANG – Menjelang tanggal 21 April, beramai-ramai kita kaum perempuan menseting pikiran dan kegiatan baik pribadi, maupun dalam ruang lingkup kelembagaan untuk menyambut hari yang  rutin diperingati, yang merupakan momentum kesadaran kaum perempuan untuk memenuhi tugas keberadaannya sebagai partner yang setara bagi kaum laki-laki dengan saling bahu-membahu bekerja membangun negeri.

Berbagai program untuk hari spesial ini telah dirancang, bahkan kebaya pun sebagai simbol keanggunan perempuan sudah kita siapkan. Di sekolah-sekolah negeri kita pun, sejak tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah atas, menjadikan kebaya sebagai cara mengekspresikan cinta kita kepada Ibu Kartini yang telah menginspirasi  kebangkitan semangat perempuan untuk maju dan mengisi berbagai peran sesuai potensi dan kemampuan.

Namun agar kegembiraan dan rasa syukur bahwa perempuan masa kini begitu  beruntung telah berada dalam era yang berbeda, tak lagi terkungkung untuk mengembangkan dan memberdayakan diri menjadi manusia yang bermanfaat, kita hendaknya tidak berhenti pada tataran seremoni. Kaum perempuan, khususnya para ibu, yang punya peran menyiapkan aset masa depan bangsa, perlu turun lebih dalam dan jernih dalam meraih hikmah dan pelajaran.

Kartini adalah sebuah fenomena pada zamannya, dan berlanjut hingga zaman kita kini, karena dari tahun ke tahun kita setia memperingatinya dan menjadikannya sosok yang terus menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia yang lahir berikutnya. Bagaimana Kartini dapat menjadi demikian intelek dan memiliki jangkauan berpikir yang  melampaui zamannya, perlu kita renungkan bersama.

Dalam tulisan ini, kami tidak membahas perbedaan pandangan tentang latar belakang buku kumpulan surat-surat Kartini ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang terambil dari inspirasi penggalan ayat Al Qur’an minadzulumati ilanuur, dari kegelapan menuju cahaya ataukah semata ungkapan perasaan dan harapan Kartini yang merasakan pencerahan telah mentransformasi cara pandang beliau tentang berbagai permasalahan, tidak hanya terkait urusan perempuan bahkan persoalan bangsa pun menjadi renungan.

Karena boleh jadi, dari keduanyalah Kartini meraih Inspirasi, berawal dari terbukanya sumber-sumber pengetahuan yang beliau dapatkan melalui buku-buku dan tukar pikiran dalam korespondensi, beliau berkenalan dengan ideologi-ideologi dunia, paling tidak beliau telah bersentuhan dengan ide-ide feminisme, humanisme maupun sosialisme, melalui buku-buku berbahasa Belanda yang telah dibaca.

Namun transformasi cara pandang beliau pun tak dapat dipungkiri, dan faktanya pun begitu nyata, bahwa beliaupun kemudian terwarnai dengan kuat oleh nilai-nilai Islam melalui hadiah Pernikahan dari gurunya kyai Sholeh Darat berupa terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jawa, sehingga mulailah Kartini mempelajari dan memahami Al Qur’an sebagai sumber kebenaran yang haqiqi.

Bila kita renungkan, dalam rentang waktu kehidupan Kartini yang begitu singkat, hanya 25 tahun saja. Pada dasarnya beliau baru bergerak pada tataran gagasan dan cita-cita, namun beliau menjadi bersinar dan terselamatkan dari potensi tergelincir dalam pola pikir tidak lain karena kecintaan beliau dalam membaca dan berpikir dalam sebagaimana perintah iqro dalam Al Qur’an. Sebelum perintah yang lainnya. Iqro tidak berhenti pada membaca literasi yang memberikan kita informasi tapi juga membaca hikmah yang menghantarkan pada pengetahuan yang sejati.

Sudut pandang dari sisi ini tentang Kartini, boleh jadi sering kita lewati. Sehingga kaum wanita begitu euforia dalam mencintainya tapi melewatkan pesan kehidupannya. Kita kebablasan dengan menginginkan emansipasi dalam berbagai situasi, atau salah mamaknai tentang kemajuan perempuan itu sendiri. Maju berarti terdidik, perempuan yang terdidik dengan baik memiliki kepribadian yang utuh, tidak tercabik-cabik walau kondisi zaman tidak selalu kondusif, sebagaiman zaman yang Kartini alami. Masa kekinian pun pada dasarnya tak jauh beda. Karena yang kita anggap kemajuan zaman boleh jadi adalah fatamorgana, bila kita tidak membacanya dengan mata hati, mudah sekali penglihatan fisik menipu kita semua.

Membaca memang dimulai dari membaca literasi, dan membaca akan diikuti dengan tradisi menulis,  yang akan menjaga pola pikir yang benar tersebar luas di era perang pemikiran dan ideologi yang bercampur-baur di masa kini. Bila kita kaum perempuan  tak ingin kehilangan jati diri, maka ekspresi mengambil inspirasi dari tokoh pahlawan Nasional ini adalah mengikuti keteladanan beliu yang paling nyata.

Alangkah miris bila kita menyaksikan bahwa di kota Rembang yang menjadi bumi tempat Kartini disemayamkan saja, telah terjadi fakta bahwa Pemerintah Kabupaten Rembang menghadapi tantangan berupa masih rendahnya tingkat minat baca masyarakat, terutama pada kalangan perempuan. Karena  berdasarkan data 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masih ada 17.000 warga buta aksara di kota itu, yang 12.000 di antaranya adalah dari kalangan perempuan marginal.

Sehingga pemerintahan daerah menjadi sibuk merancang program untuk mengatasi tantangan ini. Bupati Rembang Abdul Hafidz menyatakan berkomitmen untuk menuntaskan buta aksara di kabupaten ini, antara lain dengan strategi satu orang mengajar tiga orang lewat dukungan guru dari tokoh masyarakat. Ujar beliau, “Jika satu orang mengajar tiga orang, sedangkan guru di Rembang ada lima ribu orang, maka ditambah pendidik dari tokoh masyarakat, saya kira angka buta aksara 17 ribu itu akan selesai dalam dua tahun,” demikian katanya. Semoga terealisasi sesuai harapan.

Namun sesungguhnya fakta ini untuk menyadarkan kita semua bahwa cita-cita dan pendidikan harus dialirkan dari generasi ke generasi. Kita yang berada di Karawang pun jangan sampai lalai dalam mengambil pelajaran, kaum perempuan harus mendapat perhatian penuh dalam pendidikan dengan menumbuhkan kesadaran yang kuat bahwa budaya literasi harus betul-betul ditumbuhkan dalam masyarakat, khususnya kaum perempuan yang akan menjadi guru peradaban sesungguhnya. Melalui pendidikan yang dilakukan para perempuan dan ibu yang cerdas, kita bisa berharap lahirnya generasi berkualitas yang akan menjadi harapan perbaikan bangsa di masa yang akan datang.

Sesungguhnya sosok perempuan dengan kepribadian dan perjuangan luar biasa sebagaimana yang kita lihat dari sosok Kartini, senantiasa tampil dalam panggung sejarah bangsa kita.  bahkan bertebaran di seluruh Nusantara, sehingga kita patut lebih jernih dan lengkap dalam menghargai perjuangan kaum perempuan pengukir sejarah.

Itu sebabnya Fraksi PKS di DPR-RI berikhtiar memberikan penghargaan yang selayaknya kepada tokoh-tokoh pejuan perempuan yang telah berjasa besar bagi bangsa dan negara, dengan mengusulkan nama pendiri Diniyah Putri, Hj Rahmah El Yunusiyah, menjadi pahlawan nasional. Hal itu dimunculkan dalam diskusi publik yang diselenggarakan Fraksi PKS, di Jakarta, Senin tanggal 17 April lalu.

Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, mengatakan, usulan itu adalah sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan mereka terhadap Hj Rahmah, yang dianggap sebagai perempuan sekaligus pendidik. Perjuangan Hj Rahmah mendirikan Diniyah Putri di Sumbar pada 1923, sangat luar biasa hingga kemudian meluas ke seluruh Pulau Sumatera hingga Pulau Jawa. Maka sudah selayaknya bangsa ini memberikan gelar pahlawan kepada beliau agar generasi penerus mampu meneladani perjuangan beliau,” jelas beliau.

Demikianlah memang seharusnya, generasi kini butuh keteladanan yang luas dari berbagai tokoh pahlawan nasional dan tokoh Nasional, bahkan tokoh daerah, sampai tokoh masyarakat. Dengan kehadiran banyak tokoh khususnya tokoh perempuan, merupakan wujud kekayaan budaya bangsa. Dengan begitu peringatan hari Kartini di seluruh daerah biasanya disertai kegiatan penokohan perempuan Inspiratif, sebagaimana dilakukan di Kabupaten Karawang. Tentulah ini merupakan hal yang positif bagi masyarakat Karawang, majulah Karawang dengan Keteladanan dalam berbagai lapangan kebaikan.

[Bid Kajian Perempuan, Anak dan Keluargaa/BPKK-DPD PKS KARAWANG].

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>